Meratapi Keheningan

 Meratapi Keheningan

Puisi : RAHMA


Jam demi jam telah berlalu,
terbujur badan di pembaringan itu.
Malaikat maut pun sudah menanti untuk membawa pergi,
Orang-orang berseragam putih itu mencoba menyelamatkannya.
Memompa napas agar tidak berhenti,
memasang alat kejut jantungnya pun  sudah diberi,
frekuensi kejut pun terus naik.
Alat-alat lain juga dipasang demi mempertahankan kesadarannya.
Mereka  meratapinya, mencoba melantunkan doa demi keselamatannya.
Aku memandangi dengan wajah datar dan menyaksikan dalam hening,
Aku melihatnya, melihat Ruh-nya yang juga menatap ku dingin.
aku hanya bisa bergumam dalam hati sambil menatap Ruh itu.
jika kau kuat bertahanlah, jika sudah tak kuat pergilah ucap ku dalam hati.
lalu ia menjawab "jangan bertengkar dengan saudara-saudaramu"
kemudian aku menjawab  ucapnya itu, 
"iya, aku berjanji tidak akan bertengkar dengan saudara-saudaraku"
Selang dari beberapa menit jawabku itu, ia pun pergi dengan tenang.
saat itu juga ingin ku utara kan pada mereka yang meratapinya saat itu,
atas pesan akhir hidup yang di tinggalkan.

Komentar

Postingan Populer