TIDAK APA, MENANGISLAH JIKA TIDAK BAIK-BAIK SAJA
TIDAK APA, MENANGISLAH JIKA TIDAK BAIK-BAIK SAJA
Siang telah terik, menghamparkan hawa panas sekitarnya. Baling-baling kipas ruang kelas berdecit menambah hiruk-pikuk senyapnya kelas. Wajah yang familiar di penglihatan, bingung menghadapi keanekaragaman pribadi yang sedang mencari jati diri. Porak-poranda tampilan mereka namun hati ini selalu ingin melihat mereka jadi orang besar. Susah banget ya, jadi guru kadang seolah mereka melihat, gurunya gila hormat. Padahal tidak sama sekali.Mencoba masuk dunia mereka sulit, seolah ada tembok penghalang. Generasi kritis kadang tanpa dasar teori, berargumen seolah kebenaran hanya di mereka letaknya. Tapi aku selalu senang untuk membuka opini akan pertanyaan yang mereka lontarkan. Kadang sering keliru untuk menjawab argumen mereka.
Masa putih abu-abu, masa jiwa yang gagah berani yang tak takut akan terintimidasi. Mereka luar biasa, kadang ada juga sedihnya, sering tidak didengar, dianggap remeh. Ya, begitulah mereka jiwa bebas yang terperangkap. Jiwa mereka butuh untuk dituntun bukan untuk dituntut. Ada beberapa hal positif, yang saya dapati dari mereka. Mereka berani bertindak dalam hal apapun apalagi terkait harga diri. Namun hal yang tak lepas dari pengamatan saya, mereka punya cara unik untuk menyampaikan pesan pada diri sendiri namun tak jarang juga menghakimi diri sendiri pula, seolah tidak mampu padahal mereka bisa lakukan itu. Banyak juga dari mereka yang sedang mencari tau bagaimana kehidupan setelah proses putih abu-abu itu selesai. Tak jarang mereka bertanya kenapa saya harus jadi guru, kan gajinya kecil. Saya menjawab, hidup itu pilihan. memilih apa yang kita senangi atau sebaliknya. Setiap pribadi kita berbeda, belajar mengenali diri itu tugas kita yang tak punya batas ruang dan waktu.
Mereka juga bertanya, moto hidup ibu apa? Sempat terdiam dan berpikir. Jawabku, jalani dan terima apa yang kita dapati dan jika ada yang tidak sesuai maka ungkapkan ketidaksesuaian itu. Namun kali ini bukan perihal masa remaja menginjak dewasa yang sedang mencari jati diri. Setiap kita pernah merasa tidak baik-baik saja, bahkan menangis seolah menjadi penawar rasa itu. Tak dapat kita pungkiri, banyak hal yang kita lewati dan perjalanan panjang yang kita tempuh dan waktu itu menjadi obat penawarnya. Patah hati di usia yang belum matang menimbulkan perubahan kepribadian seseorang berubah. Hal itu kadang juga jadi pemicu suasana interaksi yang tidak nyaman yang didapati. Tidak hanya itu, sampai aspek terpenting untuk mengurus diripun terlupakan. Depresi patah hati, tidaklah sesederhana hubungan pertemanan yang sudah berlangsung lama kemudian terlupakan.
Tapi bukan itu poin pentingnya, jika saat ini kamu sedang tidak baik-baik saja, maka menangislah agar kamu menjadi lega. Kamu takkan menjadi seorang pecundang, bila menangis. Mungkin hal itu, menurut orang lain terlihat sederhana tapi tidak bagi kita. Belajar menerima, rasa kecewa, marah, sedih, rasa tidak terima memang tidaklah mudah. Tapi percayalah, tuhanmu akan selalu ada untuk mengurus hidupmu. Kapanpun kamu butuh jangan lupa kembali pada tuhanmu.
Komentar
Posting Komentar